Titik Nol Jalan Daendels di Area Mercusuar Anyer
FOTO : ISTIMEWA

Titik Nol Jalan Daendels di Area Mercusuar Anyer

Oleh : Administrator | PU-NEWS.COM | 27 November 2017 10:38:29 WIB

PU-NEWS.COM -- Banten, PU-News.com

Suatu pagi sekitar pukul 09.00, di pelataran tanda TITIK NOL Jalan Anyer–Panarukan telah tampak dua orang gadis saling mengambil foto bergantian. Ternyata Inun dan Tika, yang waktu itu belum lama lulus SMK di Cilegon, Provinsi Banten. Keduanya mengaku baru pertama kali datang ke situ, padahal dari Cilegon ke Anyer relatif tak jauh. Dengan maksud apa? “Penasaran saja,” kata mereka.

Lalu datang seorang pria muda bernama Heru, asal Bandung. Ia datang sendirian, dan terkesan terburu-buru. Heru pun mengaku penasaran, dan kali ini menyempatkan diri untuk datang, selagi ada “tugas” mengantar famili ke Cilegon. Tidak lama kemudian datang seorang pria sepuh bersama istri, pasanga anak-menantu, dan cucu-cucu. Pak Harto, purnawirawan dokter Angkatan Laut berusia lebih 80 tahun, asal Surabaya. Ia sengaja membawa keluarganya ke Titik NOL, ternyata juga sambil untuk bernostalgia. “Dulu tahun 1956 saya pernah bertugas di Anyer,” katanya.

Titik NOL Jalan Anyer–Panarukan (Jalan Daendels) yang berlokasi di area MERCUSUAR Anyer, telah menjadi obyek wisata tersendiri. Pada tugu kecil terdapat Peta Jalan Anyer–Panarukan. Jelas sekali rutenya, dari Anjer (Anyer) ke Bantam (Banten), Tangerang, Batavia, Meester Cornelis (Kampung Melayu/Jatinegara), Buitenzorg (Bogor), Ciandjoer (Cianjur), Bandoeng (Bandung), Soemedang (Sumedang), Cheribon (Cirebon), dan selanjutnya ke timur menyusuri pantai utara.

Mengapa rute Anyer–Panarukan itu tak sepenuhnya menyusuri pantai utara, melainkan sesampai Jakarta membelok ke selatan terus menjelajahi pedalaman Bandung, Sumedang, balik mengarah ke pantai utara dan setiba di Cirebon baru sepenuhnya menyusuri pantai utara?

Pertanyaan lain yang juga menggelitik adalah, apakah jalan seribu kilometer tersebut seluruhnya jalan baru yang dibangun pada masa gubernur jenderal Herman Willem Daendels yang memegang jabatan sekitar tiga tahun (5 Januari 1808 – 15 Mei 1811)? Jawabannya adalah, sangat besar kemungkinan TIDAK. Melainkan ada bagian yang pembangunan baru, ada pula bagian yang bersifat peningkatan jalan.

Prasarana jalan ada seiring kebutuhan manusia melakukan transportasi secara fisik. Jauh sebelum era kolonial transportasi perhubungan pun sudah berlangsung dinamis sesuai zamannya. Prasarana jalan sudah dibangun dengan relatif baik, dan untuk menyeberangi sungai dengan tambangan. Belum ada jembatan, meskipun catatan Tiongkok dalam ekspedisi Kubilai Khan ke Jawa yang mengerahkan 20.000 pasukan dengan tiga orang jenderal pada 1292/1293 M, menyebut ada “jembatan apung” di Kali Brantas di dekat Majapahit. Namun itu dalam situasi perang.

Bagaimana kiranya, apakah tak juga mencerminkan telah ada prasarana jalan yang relatif memadai, bila fakta sejarah menunjukkan telah terjadi pemindahan ibukota kerajaan dari sekitar Bawen (Semarang) di Jawa Tengah bagian utara ke daerah Malang di Jawa Timur bagian selatan, dan itu terjadi sekitaran tahun 929 M pada masa pemerintahan Pu Sindok (929–947)? Kiranya layak dikatakan bahwa kala itu sudah terdapat prasarana jalan yang relatif memadai.

Pada masa yang lebih belakangan, keberadaan prasarana jalan yang relatif memadai pun tergambarkan dari aktivitas Hayam Wuruk dari kekaisaran Majahit, yang sangat hobi blusukan. Hayam Wuruk (1350–1389) naik tahta pada usia 16 tahun, merupakan keturunan ke-6 baik dari Tunggulametung, Ken Dedes, maupun Ken Arok. Ia pernah mengunjungi Pajang yang terletak di antara Surakarta dan Kartasura (Jawa Tengah), tempat yang kala itu niscaya terbilang sangat jauh dari ibukota kerajaan di Mojokerto (Jawa Timur).

Bicara sejarah infrastruktur jalan tampaknya memang sungguh tak layak tanpa mencermati berbagai perjalanan Hayam Wuruk hingga ke tempat-tempat yang jauh dari ibukota. Hayam Wuruk bisa dikatakan pernah berkantor sementara di Panarukan pada 1359, dan raja-raja bawahan dari Banyuwangi serta Bali dikisahkan menghadapnya di sana melalui perjalanan laut.

Raja Hayam Wuruk juga pernah mengunjungi Lasem di pantai utara, di tahun 1354. Mungkinkah jalan pantura Jatim yang dibuat oleh Daendels sebagai bagian dari pembuatan jalan Anyer–Panarukan tidak sama dengan yang pernah dilewati oleh Hayam Wuruk dalam perjalanannya ke Lasem dan juga Panarukan?

Hampir 300 tahun kemudian terjadi peristiwa perjalanan pasukan Sultan Agung dari Mataram di Yogyakarta ke Batavia (Jakarta) yang juga menunjukkan adanya sistem jaringan jalan tertentu dalam bentangan yang jauh ataupun panjang. Pergerakan pasukan Mataram pada 1628 dan 1629 pun ditengarai menggunakan basis antara di Sumedang, dan juga Kuningan. Selain itu, pada penyerangan pertama juga dikerahkan ribuan prajurit dari Bandung yang dipimpin oleh Dipati Ukur.

Infrastruktur jalan yang ada dengan penggambaran fakta sejarah tersebut jelas bukan Kompeni Belanda yang membangunnya. Mereka setelah tiba di Banten tahun 1596 lalu bertualang di Maluku. Selanjutnya menaklukkan kadipaten Jayakarta tahun 1619, dan sembilan tahun kemudian dilabrak oleh pasukan dari Mataram.

Kalau dipikir-pikir, mengapa ketika Belanda membangun jalan raya Anyer–Panarukan tidak setelah Anyer–Banten–Tangerang–Batavia langsung Karawang–Cikampek–Indramayu–Cirebon, melainkan Batavia–Bogor–Cianjur–Bandung–Sumedang–Cirebon? Ya, mungkin pun dengan maksud untuk membongkar kantung-kantung perlawanan seperti Bandung dan Sumedang itu.

*****SBR

Komentar Berita

PU Terkini
Bendung Katulampa Bukan Bangunan Pengendali Banjir Kali Ciliwung

Senin, 27 November 2017 - 10:44:17 WIB

Bendung Katulampa Bukan Bangunan Pengendali Banjir Kali Ciliwung

Jakarta, PU-News.com Rabu (2/11/2017) di media sosial (medsos) beredar informasi menyesatkan, kebohongan besar, mengenai Katulampa Jebol. Tentu yang dimaksudkan oleh pembuat teror via medsos tersebut adalah Bendung Katulampa pada bagian hulu Kali Ciliwung di daerah Bogor. Judulnya

Titik Nol Jalan Daendels di Area Mercusuar Anyer

Senin, 27 November 2017 - 10:38:29 WIB

Titik Nol Jalan Daendels di Area Mercusuar Anyer

Banten, PU-News.com Suatu pagi sekitar pukul 09.00, di pelataran tanda TITIK NOL Jalan AnyerâPanarukan telah tampak dua orang gadis saling mengambil foto bergantian. Ternyata Inun dan Tika, yang waktu itu belum lama lulus SMK di Cilegon, Provinsi Banten. Keduanya mengaku baru pertama

Alat Orthopedi Berbasis Magnesium Dikembangkan Mahasiswa ITS

Kamis, 05 Oktober 2017 - 09:16:29 WIB

Alat Orthopedi Berbasis Magnesium Dikembangkan Mahasiswa ITS

Surabaya, PU-News.com Seseorang yang mengalami patah tulang, biasanya memasang alat orthopedi atau alat fiksasi agar bisa tersambung kembali. Namun, bahan-bahan dari alat tersebut tak jarang tidak ramah lingkungan dan relatif mahal. Bermula dari kondisi itu, dua mahasiswa Departemen Kimia

Siap Berlaga di Jepang, Mobil Balap Sapu Angin Buatan ITS

Jumat, 25 Agustus 2017 - 14:43:18 WIB

Siap Berlaga di Jepang, Mobil Balap Sapu Angin Buatan ITS

Surabaya, PU-News.com Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya berhasil mengembangkan mobil balap Sapu Angin Speed 5. Mobil terbaru dari generasi sebelumnya itu akan diikutkan dalam Student Formula Japan (SFJ) di Jepang pada 5-9 September 2017. Sapu Angin 5 diluncurkan oleh Rektor ITS,

3 Agustus 2017, Tol Gempol-Bangil Diuji Coba

Kamis, 03 Agustus 2017 - 10:23:00 WIB

3 Agustus 2017, Tol Gempol-Bangil Diuji Coba

PU-News.com Mulai tanggal 3 Agustus 2017 pukul 00.00 WIB, Jalan Tol Gempol-Pasuruan Seksi 1 Gempol-Rembang Segmen Gempol-Bangil (Gempol Junction-Bangil) memasuki masa uji coba. Pembukaan ini dilakukan setelah terbitnya Sertifikat Laik Operasi (SLO) nomor: JL.03.04-P/266 tanggal 31 Juli 2017